Piano Buatan Indonesia Laku Keras di AS

INDONESIA buat kejutan! Sekarang juga dikenal sebagai negara pengekspor piano berkualitas tinggi. Terlebih lagi alat musik buatan negeri tropis ini laku keras di Amerika Serikat! Setiap bulan sedikitnya 50 upright piano diekspor ke negara adikuasa AS dari Cikarang, Jawa Barat. (tepatnya di KIIC Karawang & Indotaisei Cikampek)

PEMESANNYA tidak tanggung-tanggung, pabrik piano Boston, label kedua dari merek terkenal dunia, Steinway & Sons, Rolls-Royce-nya piano!

"Boston Piano sangat puas atas kualitas piano buatan Indonesia yang kami ekspor ke Amerika Serikat," ungkap Masakazu Umetsu, Chief Executive Officer Kawai Indonesia.

Pabrik di Cikarang direkomendasi pabrik Kawai Jepang kepada Boston sewaktu tahun lalu pabrik piano AS ini mencari pabrik di luar benua Amerika untuk memproduksi pianonya. Rekomendasi tersebut tidak lain, menurut Umetsu, karena Kawai sangat puas atas produksi Cikarang, tidak meragukan sedikit pun untuk menyarankan piano Boston dengan moto "Affordable high-quality piano" diproduksi di Indonesia.

Selain AS, Eropa juga mengimpor upright piano Kawai dari Cikarang berlabel "Made in Indonesia". Total setiap bulan pabrik penanaman modal asing (PMA) dari Kawai Musical Instrument Manufacturing Company berpusat di Hamamatsu, sekitar 300 kilometer dari Tokyo, mengekspor 500 piano dari kawasan industri Cikarang. Sementara ke pabrik pusatnya di Hamamatsu, Cikarang mengirim setiap bulan 1.500 soundboard lengkap ke Jepang.

"Local content-nya 60 persen buatan Indonesia," ungkap Umetsu baru-baru ini di pabriknya. Komponen lokal tersebut di antaranya iron frame piano terbuat dari casting iron (besi cor) seberat 85 kilogram untuk penyangga string atau kawat senar piano dibuat di Pulo Gadung. Kabinet piano dipesan dari pabrik furniture di kawasan Cikarang. Bahan baku kayu lapis khusus bagi salah satu komponen piano dari Jambi, Kalimantan, dan Sulawesi.

Komponen iron frame harus prima dibuat sebab fungsinya sebagai penyangga dari tekanan kawat senar piano, harus mampu menahan tekanan sekitar 20 ton. Sebuah piano dilengkapi dengan 230 senar, setiap senar mempunyai tekanan sekitar 72,7 kg sehingga komponen tersebut harus mampu menahan tekanan sekitar 16.300 kg untuk upright piano atau sekitar 27.180 kg bagi grand piano.

Adapun komponen soundboard merupakan bagian terpenting dari sebuah piano yang memengaruhi mutu suara, terbuat dari kayu spruce, tebalnya sekitar 1 sentimeter. Komponen ini dilekatkan pada frame buatan Pulo Gadung tersebut.

"Komponen yang kami datangkan dari Jepang hanya action mechanic, keyboard, dan pedalnya," tutur Umetsu, salah seorang pemegang saham (1 persen) perusahaan yang berlatar belakang pendidikan tuning piano di Duesseldorf, Jerman.

Untuk mengantisipasi peningkatan pesanan dari dunia internasional, pabrik Kawai Indonesia yang mulai dibangun Maret 2001 dan berproduksi Januari 2002 dengan investasi 4,5 juta dollar AS saat ini memperluas pabriknya dengan mendirikan unit untuk produksi grand piano dengan investasi sama, 4,5 juta dollar AS, atau total pabrik Kawai Jepang menanam modal sebesar 9 juta dollar AS di Cikarang.

Investasi lain adalah mengirim tenaga Indonesia ke pabrik Kawai di Jepang. "Saya mendalami assembling dan finishing selama tiga tahun di Jepang," ujar Moerdiono, lulusan STM jurusan mekanik, salah seorang dari sekian banyak karyawan pabrik yang dikirim ke Jepang untuk mendalami bidangnya dan kini fasih berbahasa Jepang.

Seorang tenaga wanita lulusan SMA yang melakukan shitaritsu atau penyetelan senar pertama (first tuner), juga pernah dikirim untuk mendalami bidangnya selama kurun waktu sama. Secara periodik, sejumlah karyawan dikirim ke pusat Kawai di Hamamatsu selama satu bulan. "Tahun lalu kami kirim dua puluh (dari 200) karyawan ke Jepang," kata Umetsu menambahkan keterangannya.

Tidak ada satu pun piano Kawai buatan Indonesia dari Cikarang dipasarkan di negeri khatulistiwa ini. Dari kawasan berikat Cikarang, piano langsung diekspor ke luar negeri. Karena itu, yang beredar di Tanah Air adalah piano impor dari Jepang, seperti yang dipamerkan di ruang pajang Kawai (diresmikan 1 November) yang dikelola PT Modern Photo Tbk sebagai distributornya. Salah satunya adalah seri Vari-Touch VT-132, piano pertama di dunia dengan tuas variable touch control untuk mengatur atau mengubah bobot/berat sentuhan keyboard (tuts).

"Orang Indonesia lebih menyukai buatan luar negeri, kurang menghargai produk negeri sendiri," tutur Umetsu prihatin. Padahal, menurut Umetsu, kualitas mutu produk dalam negeri sudah tinggi, sama dengan produk luar negeri. Salah satu contoh yang diberikan adalah piano Boston buatan Cikarang. Karena itu, menurut Umetsu, seandainya piano buatan Cikarang diizinkan dipasarkan di Indonesia, piano Cikarang disangsikan akan selaku kacang goreng seperti di pasar Amerika Serikat. Ironis sekali, katanya.

SELAIN pasarnya masih kecil, sejarah pembuatan piano di Tanah Air masih berusia seumur jagung. Sedikitnya baru ada dua perusahaan, yakni Kawai di Cikarang dan Yamaha di Pulo Gadung. Keduanya pun dari Jepang. Sementara di negeri sakura, selain pabrik raksasa Yamaha (produsen piano nomor dua di dunia, 130.000 unit per tahun) dan Kawai (nomor dua di Jepang, 70.000 piano per tahun), ada ratusan pabrik kecil dan industri rumah yang turut membanjiri pasar piano negeri matahari terbit.

Dibandingkan dengan Indonesia, sejarah pembuatan piano di Jepang sudah lebih dari seabad usianya, tepatnya 117 tahun lalu kala tahun 1887 Torakusu Yamaha merintisnya dengan membuat organ di Hamamatsu. Baru pada tahun 1900, setelah ia mempelajari manufakturing piano di AS, Yamaha memperkenalkan upright piano pertama buatannya.

Salah satu tenaga ahlinya untuk membuat piano pertamanya itu adalah Koichi Kawai, bocah 12 tahun kelahiran tahun 1886, putra seorang pembuat kereta kuda dan gerobak. Torakusu Yamaha dibuatnya amat kagum atas prestasi bocah ini, yang pada usia amat muda itu telah berhasil membuat sepeda kayunya sendiri. Yamaha, putra seorang samurai dari Tokugawa Shogunate, lahir tahun 1851, bertetangga dengan ayah Koichi Kawai, langsung mengajak si bocah Kawai turut membantu membuat upright piano pertama Jepang.

Itulah cikal bakal Kawai membangun pabriknya sendiri di kemudian hari. Dengan setia, Koichi Kawai masih bekerja pada perusahaan Nippon Gakki Seizo Kabushiki Kwaisha (Japanese Musical Instrument Manufacturing Company) yang didirikan Torakusu Yamaha sewaktu perintis pembuat piano Jepang ini meninggal pada 1916 dalam usia 64 tahun. Selama periode tersebut, bersama-sama mereka memperkenalkan dan memperkokoh perusahaan piano pertama Jepang, Nippon Gakki Co Ltd.

Koichi Kawai bersama enam rekannya kemudian berhenti dari perusahaan Yamaha pada tahun 1927, saat Koichi mendirikan Kawai Musical Instrument Research Laboratory, juga di Hamamatsu. Kawai, orang Jepang pertama yang merancang dan membuat perangkat action mechanic, jantung piano di negeri ini, ikut pula mendesain piano sewaktu bekerja di Yamaha, memperkenalkan piano pertama Kawai-nya pada akhir tahun pertama pendirian perusahaannya. Termasuk perangkat action sudah dibuat oleh pabriknya sendiri, meski masih harus disempurnakan lagi, untuk melengkapi upright piano 64-note-nya tersebut yang dijual hanya seharga 350 yen. Setahun kemudian, 1928, dia berhasil pula memperkenalkan grand piano pertamanya seiring ganti nama perusahaan menjadi Kawai Musical Instrument Manufacturing Company.

Sayangnya, pada waktu itu permintaan akan piano sedang menurun di Jepang, perusahaannya hanya berhasil menjual sekitar 250 piano per tahun. Beruntung produk harmonikanya cukup laku di pasar sehingga bisa mendukung produksi piano. Untuk meningkatkan daya saing, Kawai harus mengembangkan dan meningkatkan produksi perangkat action pianonya sendiri agar produknya bisa bersaing. Sampai saat itu Jepang masih bergantung pada perangkat action impor dari Eropa dan AS.

Kawai sebenarnya hanya mengikuti jejak Torakusu Yamaha, hingga tahun 1907 pabrik piano Yamaha masih menggunakan action mechanic impor dalam piano produksinya. Tahun itu juga, dibantu Koichi Kawai, ia mengembangkan perangkat ini yang kemudian dipergunakan dalam semua produksi pabriknya dan dikenal sebagai perangkat action bermutu tinggi hingga zaman sekarang. Demikian pula perangkat action buatan Kawai kini diakui sebagai salah satu yang terbaik di dunia.

Sejak itu pabrik Yamaha berkembang pesat, lalu mulai memproduksi harmonika, xilofon, piano mainan, dan berbagai alat musik lainnya. Tidak lama masa cerah ini karena tahun 1922 masa surut menghinggapi perusahaan ini saat kobaran api membumihanguskan pabrik barunya, Nakazawa Plant, dan setahun kemudian Itaya-machi Plant mengalami nasib sama- 1923 merupakan tahun hitam bagi Yamaha, selain Itaya-machi Plant, kantor perwakilan di Tokyo dan pabriknya di Yokohama rusak berat terkena gempa bumi. Ditambah lagi tahun 1926, produksi pabriknya ibarat terhenti sebagai dampak dari 105 hari unjuk rasa buruh Jepang. Namun, tahun 1930, perusahaan Yahama sudah berhasil bangkit kembali.

Demikian pula Kawai, berhasil keluar dari masa sulit yang melanda Jepang saat itu. Tahun 1935 tercatat perusahaan Koichi Kawai memproduksi sekitar 1.000 upright piano dan lebih dari 100 grand piano. Namun, produksi Kawai maupun Yamaha kembali terganggu lagi, kali ini oleh Perang Dunia II. Pabrik Kawai diminta pemerintah untuk memproduksi senjata perang. Salah satu produksi pengganti tersebut adalah memproduksi komponen pesawat terbang.

Selain amunisi, pabrik piano Yamaha diminta untuk memproduksi baling-baling dan sayap pesawat tempur pada masa Perang Dunia. Begitu tingginya permintaan dari pihak militer Jepang saat itu, sehingga kedua pabrik piano tidak mempunyai pilihan kecuali menutup produksi alat-alat musiknya.

Kota Hamamatsu merupakan salah satu sasaran utama pengeboman kekuatan udara Amerika Serikat dan Sekutu pada detik-detik akhir Perang Dunia II Agustus 1945. Hampir seluruh pabrik yang ada di kota kecil berpenghuni 17.000 penduduk ini hancur dibom AS, termasuk pabrik piano Kawai rata dengan bumi.

Dengan tekad baja setelah Perang Dunia usai, Koichi Kawai bersama 57 karyawannya membangun kembali pabrik piano Kawai dan pada tahun 1949 sudah kembali memproduksi upright dan grand piano. Pabrik piano Yamaha lebih cepat dua tahun, pada tahun 1947 sudah lebih dahulu kembali berproduksi.

Cepatnya kedua pabrik piano kembali berproduksi antara lain didorong oleh kebijakan AS yang memberi prioritas bagi perkembangan seni dan budaya pada bekas musuh utama Perang Dunia II-nya. Mata pelajaran musik merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah Jepang seusai Perang Dunia sehingga memacu produksi alat -alat musik negeri samurai ini.

Kawai mencatat pada tahun 1953 memproduksi 1.500 piano per tahun, sedangkan Yamaha pada tahun tersebut membuka Yamaha Complex di Ginza, daerah pusat belanja utama ibu kota Tokyo. Begitu pesatnya perkembangan perusahaan putra seorang samurai ini, pada peringatan 100 tahun pendiriannya, 1987, mereka mengganti nama menjadi Yamaha Corporation, tidak lagi hanya memproduksi piano dan alat-alat musik akustik dan elektronik, tetapi meluaskan diri sampai memproduksi hi-fi, perangkat golf, raket tenis, ski, furniture, peralatan dapur, dan komponen untuk industri elektronik, juga sepeda motor dan yacht yang diproduksi oleh anak perusahaannya, Yamaha Motors Co Ltd.

Sementara pabrik Kawai lebih mengonsolidasi diri pada produksi alat-alat musik, dengan 6.000 tenaga kerja saat sekarang, pabrik kedua terbesar di Jepang ini memproduksi lebih dari 70.000 piano per tahun, menempatkan dirinya di peringkat ketiga dunia. Tahun 1980 meresmikan pabrik Ryuyo Grand Piano Facility yang diakui sebagai pabrik paling modern dunia memproduksi grand piano bermutu tinggi yang mengantarkan pada tahun 2002 di AS meraih The Top Prize Winner pada Rachmaninoff International Piano Competition & Festival dan International Piano Competition Citta di Cantu, Italia.

MESKI masih kecil, pasar akustik piano di Indonesia tahun-tahun terakhir ini meningkat tajam. Hal itu tercermin dengan bermunculannya toko-toko yang menawarkan piano seperti jamur di musim hujan, seiring dengan kebutuhan masyarakat akan pentingnya musik.

Pasar piano, baik upright maupun grand (bukan digital), di negeri tropis ini ada tiga jenis. Pertama, pasar piano baru, yakni yang baru keluar dari pabrik, disegel, resmi, dan bergaransi.

Kedua, pasar piano bekas atau second hand (tangan kedua) yang sangat sulit untuk menilai rasio antara harga dan kualitas pianonya. Sebab, keterangan tentang kondisi piano hanya dari pihak penjual, disangsikan kebenarannya.

Pasar ketiga adalah pasar piano recondition, piano yang sudah sangat tua usianya dan rusak, diperbaiki dan dipoles sedemikian rupa sehingga terlihat baru. Piano jenis ini sudah membanjiri pasar Indonesia dari segala macam merek, dari yang tidak dikenal sampai merek dagang yang nomor wahid. Harganya lebih murah dibandingkan dengan piano baru. Tinggal pembelinya yang harus hati-hati karena mungkin merupakan piano bekas terkena banjir, lapuk, dan mekaniknya rusak.

10 comments

6 November 2015 01.55

jadi gan, kalo piano ritmuller itu buatan mana ya ?

30 Januari 2016 04.49

Yamaha dan kawai layaknya perusahaan adik kakak

1 Februari 2016 08.05

Sejatinya sih buatan jerman, tapi untuk Pasar Asia (termasuk Indonesia) sudah buatan china gan

1 Februari 2016 08.15

Mestinya begitu abie, tapi pada praktek penjualannya seringkali mereka saling menjelek-jelekkan produk saingannya, sayang ya

1 Februari 2016 08.31

Untuk piano kawai buatan Indonesia sendiri sudah dipasarkan kok di Indonesia, seperti seri K300. Tapi sewaktu saya tuning milik customer saya masih ada beberapa kendala yg ditemui, salah satunya yg paling terasa ya double strike.. Mungkin karena kawai Indonesia masih tergolong muda ya, jadi masih ada kekurangan. Ayo kita dukung supaya piano buatan Indonesia mendunia

1 Februari 2016 08.31

Untuk piano kawai buatan Indonesia sendiri sudah dipasarkan kok di Indonesia, seperti seri K300. Tapi sewaktu saya tuning milik customer saya masih ada beberapa kendala yg ditemui, salah satunya yg paling terasa ya double strike.. Mungkin karena kawai Indonesia masih tergolong muda ya, jadi masih ada kekurangan. Ayo kita dukung supaya piano buatan Indonesia mendunia

18 Mei 2016 19.13

Saya pribadi siih tidak masalah memakai produksi dalam negri, kalau memang Kawai / Yamaha bisa adil dalam gread penjualan lokal..
seperti sudah menjadi rahasia Publik, barang2 yang di produksi di Indonesia dengan brand Luar yang sudah terkenal....yang di pasarkan biasannya Grade B, atow kualitas nomor 2 nya.. biasa Grade A atau kualitas 1 nya di export...
Jadi jangan salahkan Konsumen di Indonesia kalau tidak ingin beli produk sendiri...?
Indonesia tidak bisa seperti Japan, dengan membuat ketentuan Produk Terbaik harus di pasarkan di Negri sendiri, Produk Nomor 2 nya baru buat di Export.. You Know laah.. Barang JDM (Japan Domestic Market) jauh lbh baik dari barang di Luar Japan...

4 Agustus 2016 00.54

Permisi mau nanya apakah di indo ada yang jual senar upright piano ?

16 Agustus 2016 00.35

toko piano kawai resmi di bandung dimana ?

22 November 2016 03.24

Jadi K300 Kawai ok gak gan ?